Mengenal Lebih Dekat Potret Kaum Marginal Jakarta

Alhamdulillah di hari selasa 6 Agustus 2019 berkesempatan untuk mengikuti Diskusi Publik yang diselengarakan oleh Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN bersama dengan IMZ Dompet Dhuafa yang membahas tentang potret kaum marjinal bertempat di RM Bumbu Desa, Cikini. Menghadirkan lembaga-lembaga terkait sebagai pembicara, di antaranya YMB PLN, Turun Tangan, INDEF, IAEI Jakarta, serta Dinas Sosial DKI Jakarta

Sebelum Lebih Jauh Apa Itu Kaum Marginal ???

Kaum marginal atau kelompok marginal dapat kita terjemahkan sebagai kelompok minoritas yang tidak mampu mengikuti ambisi zaman dan tidak memiliki ruang untuk menghidupkan potensi kemanusiannya. Konteks marginal menjadi sangat multitafsir. Paling tidak, istilah marginal dapat kita lihat dalam beberapa konteks. Di antaranya: marginal secara sosiologis di saat kelompok masyarakat tidak mendapatkan perlakuan yang adil. misalkan perlakuan tidak adil yang disponsosri oleh perbedaan gender. Marginal dalam ekologis di mana kelompok masyarakat tidak dapat memanfaat sumber daya alamnya secara adil atau SDA yang dimilikinya dirusak oleh bangunan koorporasi yang rakus.

Marginal dalam pendidikan di saat kelompok minoritas tidak dapat bersekolah dan tidak mendapatkan akses ke sekolah yang mudah dilatarbelakangi oleh pembangunan infrastruktr pendidikan yang tidak merata. Marginal dalam persoalan politik ketika kelompok minoritas tidak mendapatkan haknya untuk berpartisipasi dalam politik apalagi mendapatkan intimidasi dari kelompok mayoritas, dan marginal dalam konteks lain yang kerap kita temukan di lingkungan masyarakat.

Beberapa pandangan berpendapat, menjadi kelompok marginal bisa bersumber dari dua faktor, struktural maupun kultural. Marginal secara struktural adalah kelompok terpinggirkan yang terhempas karena kebijakan dan persaingan yang didesain oleh penguasa, baik penguasa pasar maupun pengusa pemerintaha misalnya.

Marginal kultural dapat kita temukan di lingkungan kaum miskin kota yang secara terun menurun mewariskan ketidakmampuan bertahan hidup dan bersaing ditengah arus kehidupan. Marginal kultural telah bersemayam jauh di dalam alam pikir masyrakat miskin yang pesimistis dengan melihat kehidupan sebagaimana apa adanya.

Tuduhan  kehadiran kaum marjinal atau kelompok marginal dalam hal ini kemiskinan kepada kesalahan manusia miskin itu sendiri dinilai merupakan cara pandang yang keliru. Kemiskinan merupakan bagian dari buruknya tatanan ekonomi, sosial atau lebih jelas lagi sifat tirani dari elit-elit politik di negara. Pernyataan bahwa sebab kemiskinan adalah kebodohan dan kemalasan orang yang miskin, termasuk kesalahan logika atau disebut blaming the victims (menyalahkan korban).

Terlepas dari dua faktor yang kontradiktif tentang terlahirnya kaum marginal, kesadaran kritis menjadi point  penting dari usaha transformasi masayrakat marjinal menjadi masyarakat yang berbudaya dan berdaya. Krisisnya kesadaran kritis di tengah masyarakat telah menjadikan manusia bergantung kepada orang lain dan melihat kehidupan sebagai hal yang harus dijalani dan diakhiri dengan hukum alam dan coretan takdir tuhan.

Dr. Mariana, selaku Sekretaris Dinas Sosial DKI Jakarta dalam kesempatannya menyebutkan ukuran tingkat kemiskinan di Jakarta masih menganut ukuran skala nasional. Sedangkan tingkat kemiskinan di Jakarta dan di daerah lain tidaklah sama. Tingkat kemiskinan di Jakarta tiap tahun menurun. Namun penurunannya sangat kecil. Hanya 1%, 0,3% dan seterusnya. Padahal pendapatan daerah sangatlah tinggi

Menurut data INDEF, dari pemetaan kemiskinan di Indonesia, Jakarta merupakan daerah yang sangat rentan miskin. data yang diperoleh, dikaji dan dipandang melalui multi dimensi yang mana orang miskin dan yang tidak sulit untuk diidentifikasi. Berbeda dengan yang ada di daerah-daerah, orang kaya akan terlihat dari penampilan fisiknya. Selain itu semiskin-miskinnya di daerah mereka tetap tidak kekurangan. Sedangkan di Jakarta orang miskin berlagak hedon, mereka yang memiliki rumah mewah belum tentu kebutuhan perutnya kecukupan. Meski demikian mereka tidak mau dibilang miskin.

YBM PLN sebagai salah satu badan pengelola zakat di lingkungan PT PLN telah berkhidmat mengangkat harkat dan martabat sosial kemanusiaan kamu dhuafa. Selain itu juga turut mengambil peran dalam usaha meningkatkan kualitas hidup manusia melalui program ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial dan dakwah. salah satu yang menerima manfaat adalah Kaum Marginal DKI Jakarta dengan penyebaran atau yang merasakan manfaat seluruh warga yang membutuhkan di daerah DKI Jakarta.

Langkah penyaluran yang dilakukan oleh YBM PLN memiliki beberapa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kritis dan didorong oleh kerja-kerja intelektual dan sosial, masyarakat marginal akan melihat dunia sebagai pilihan-pilihan jalan hidupnya. Kesadaran kritis akan melahirkan tindakan dan sikap masyarakat marjinal untuk hidup lebih baik dan turut serta terlibat sebagai aktor dari kemajuan zaman.

Semoga dengan adanya program yang dilakukan oleh YBM PLN, tingkat kemiskinan menjadi berkurang dan terjadi peningkatan taraf hidup yang lebih layak lagi sehingga tak ada lagi Kaum Marginal yang terpinggirkan, dan semua menikmati fasilitas kesehatan dan pendidikan yang optimal.


*image capture by awalpermata with Samsung Galaxy A70

*sumber referensi penulisan berasal dari buku Pulo Freire : Blaming The Victims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!