Pentingnya Imunisasi Untuk Kesehatan

menjaga kesehatan merupakan hal yang paling penting karena menjadi sehat adalah hal yang paling berharga karena kesehatan merupakan hal yang tak ternilai harganya, jika kita sudah sakit semua aktifitas kita menjadi terhambat, setiap kesempatan yang bernilai akan terlewatkan jika kita tidak menjaga kesehatan.

untuk menjaga kesehatan sedari dini diperlukan imunisasi. imunisasi adalah proses untuk membuat sitem imun menjadi kebal terhadap suatu penyakit. proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin yang merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tersebut. pemberian imunisasi dilakukan sejak kita dilahirkan ke dunia ini, yang bertujuan agar sistem kekebalan tubuh kita semakin baik dalam melawan berbagai macam penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh

bayi yang baru saja dilahirkan memang sudah memiliki antibodi alami yang dikenal dengan kekebalan pasif. Antibodi tersebut didapatkan dari ibunya saat bayi masih di dalam kandungan. akan tetapi, kekebalan ini hanya dapat bertahan beberapa minggu atau bulan saja. setelah itu, bayi akan menjadi rentan terhadap berbagai jenis penyakit. karena lingkungan yang di hadapinya berbeda saat masih di dalam kandungan ibunya.

Imunisasi bertujuan untuk membangun kekebalan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit, dengan membentuk antibodi dalam kadar tertentu. agar antibodi tersebut terbentuk, seseorang harus diberikan vaksin sesuai jadwal yang telah ditentukan. jadwal imunisasi tergantung jenis penyakit yang hendak dicegah. jumlah vaksin yag diberikan cukup satu kali, tetapi ada juga yang harus diberikan beberapa kali, dan diulang pada usia tertentu. Vaksin dapat diberikan dengan cara disuntik atau tetes mulut.

Mengenai cakupan imunisasi, data Kementerian Kesehatan menyebutkan, sekitar 91% bayi di Indonesia pada tahun 2017 telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Angka ini masih sedikit di bawah target renstra (rencana strategis) tahun 2017, yaitu sebesar 92 persen. Sembilan belas dari 34 provinsi di Indonesia juga belum mencapai target renstra. Papua dan Kalimantan Utara menempati tempat terendah dengan capaian kurang dari 70%.

Berdasarkan data tersebut, diketahui juga bahwa hampir 9% atau lebih dari 400.000 bayi di Indonesia tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap.

Sedangkan untuk cakupan imunisasi lanjutan, persentase anak usia 12-24 bulan yang telah mendapatkan imunisasi DPT-HB-HiB tahun 2017 mencapai sekitar 63 persen. Angka ini telah melampaui target renstra 2017 sebesar 45 persen. Sedangkan persentase anak yang mendapatkan imunisasi campak/MR tahun 2017, sebesar 62 persen. Jumlah ini masih jauh dari target renstra 2017 sebesar 92 persen.

Perlu diketahui bahwa imunisasi memang tidak memberikan perlindungan 100 persen pada anak. Anak yang telah diimunisasi masih mungkin terserang suatu penyakit, namun kemungkinannya jauh lebih kecil, yaitu hanya sekitar 5-15 persen. Hal ini bukan berarti imunisasi tersebut gagal, tetapi karena memang perlindungan imunisasi sekitar 80-95 persen.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asorun Niam Sholeh menyatakan MUI sudah mengeluarkan fatwa Nomor 4 Tahun 2016 tentang imunisasi. Niam menyatakan, dalam fatwa yang dikeluarkan MUI tentang imunisasi, tidak serta-merta praktik imunisasi diperbolehkan. Sebab, imunisasi dilakukan harus dengan syarat dan proses untuk mencegah penyakit. dia menegaskan yang diakui MUI hingga saat ini hanya ada 2 jenis vaksin. yaitu vaksin meningitis dan vaksin flu. tetapi fatwa ini tidak serta-merta kemudian bisa menegaskan bahwa praktik imunisasi di lapangan itu dibolehkan, karena kebolehan imunisasi itu dengan syarat. Imunisasi itu adalah prosesnya, dia sebagai sebuah proses untuk mencegah penyakit itu dibolehkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!