Manusia Ditengah Keberagaman Dan Pluralitas

Manusia sebagai makhluk Tuhan tidak bisa dipisahkan dari keberagaman dan pluralitas. Keberagaman itu sendiri juga tidak bisa dipisahkan dari kemanusiaan dan ini sudah menjadi ketentuan Tuhan. Keberagaman dan pluralitas inilah yang menjadi keindahan bagi kemanusiaan itu sendiri. Namun kekerasan bernuansa agama di negara ini telah mengoyak kemanusiaan dengan keberagamannya itu.

Percuma saja jika Presiden Amerika Serikat memuji Indonesia karena demokrasi yang digembar-gemborkannya jika kekerasan bermotif agama masih kerap terjadi di negara ini. Setelah konflik Ambon, Poso, peristiwa peledakan gereja di berbagai wilayah di Indonesia dan penyerangan jemaat Ahmadiyah di Cikeusik pada tahun-tahun yang lalu, negara ini nampaknya masih belum juga belajar dari “dosa-dosanya” yang telah di perbuat dan telah menyakiti arti dari keberagaman itu sendiri.

Pluralisme adalah sikap dapat menerima, menghargai, dan memandang agama lain sebagai agama yang baik serta memiliki kebenaran. Pertikaian antar umat beragama sebetulnya bukanlah warisan sejarah Indonesia. Diakui atau tidak Indonesia sudah plural sebelum kata plural itu masuk ke Indonesia. Jauh kata plural Indonesia merambah Indonesia, masyarakat kita sudah plural, sudah majemuk dari segala sisi. Bahkan dalam kitab Sutasoma ada kata bhineka tunggal ika yang berarti sejak dahulu masyarakat Indonesia sudah majemuk tidak hanya dalam berkeyakinan tetapi juga tata laku kehidupan, yang menyatukan dari keragaman tersebut adalah kesatuan wadah berupa tanah air yang menjadi tempat tinggal mulai dari lahir sampai mati.

Pada dasarnya semua agama mengajarkan tentang universalitas dalam setiap inti ajarannya guna mempertemukan semua keyakinan seluruh umat manusia. Adapun nilai dari universalitas itu sendiri haruslah didasarkan pada kondisi yang nyata, ruang maupun waktu agar memiliki efektifitas sebagai dasar etika sosial. Salah satu prasayarat bagi terwujudnya masyarakat madani adalah tercermin dengan penerimaan dan pengakuan dari segenap masyarakat yang majemuk disertai dengan sikap tulus untuk menerima kenyataan kemajemukan tersebut sebagai satu hal yang bernilai positif.

Kenapa di sini disinggung permasalahan masyarakat madani yang berujung pada konsep pluralisme dalam agama? Hal tersebut dikarenakan pembahasan dalam kerukunan umat beragama tentu menyinggung beberapa agama, lebih-lebih dalam bangsa Indonesia yang notabenenya adalah Negara Pancasila yang didalamnya terdapat berbagai macam agama dan aliran kepercayaan.

 

Kekerasan agama sebenarnya juga tidak terkait pada diri agama itu sendiri, sebaliknya hal itu disebabkan oleh faktor lain yang berasal dari luar agama tersebut. Pada dasarnya agama apapun diturunkan ke bumi untuk menciptakan kedamaian diantara umat manusia, lalu mengapa banyak pertumpahan darah yang mengatasnamakan agama dan Tuhan? Begitulah manusia yang seringkali salah memahami Tuhan. Banyak hal yang mereka kira perintah Tuhan, ternyata bukan. Begitu juga sebaliknya yang mereka kira bukan ajaran Tuhan, ternyata itulah perintah Tuhan.

Sikap salah memahami Tuhan inilah yang melahirkan intoleransi dan eksklusivisme. Dalam masyarakat yang kurang bisa menjaga emosi secara dewasa, segala sesuatu yang bisa dianggap menghina kepercayaan atau iman seseorang, sekecil apapun, bisa mengakibatkan kekerasan dalam skala yang luar biasa besar.

Pluralisme adalah suatu realitas dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini. Disatu sisi lain ini merupakan potensi, tetapi di pihak lain sangat rentan. Untuk hal itulah harus terus dikembangkan pola pikir dan cara hidup yang memungkinkan keanekaragaman tersebut bisa hidup dan bertumbuh. Maka dikembangkanlah sikap hidup toleransi, saling menghargai, menghormati keyakinan orang lain, tidak saling menjelekkan, dan saling mengalah. Prinsip-prinsip ini haruslah terus dikembangkan lewat jalur pendidikan secara luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
X
Welcome to Our Website
Welcome to AwalPermata Official Website
wpChatIcon